Rabu, 24 September 2008

manusia bodoh

Apa hak seorang manusia menindas manusia lain? Apa ngga punya urusan lain yg lebih penting untuk diurus selain diri sendiri dulu? Memangnya diri kita sendiri sudah cukup baik untuk merubah org lain menjadi seperti yg kita mau?

Pertanyaan2 di atas selalu muncul dalam benak saya ketika melihat penindasan2 di TV atau membacanya di sebuah media. Well, sbenernya saya selalu gemes klo liat FPI. Gpp ya sebut namanya saja. Saya tidak suka menutup2i atau memakai kiasan.

Melihat aksi mereka yg selalu meng atas namakan utusan Allah SWT dan jihad, iihhh saya jadi malu sebagai umat muslim. Ko punya saudara yg anarkis begitu. Apa siihh yg mreka pelajari di organisasi itu? cuci otak? ko merasa punya hak untuk mengubah hidup org banyak yg mungkin udah ngga bs diubah lagi krn sudah mendarah daging dari mereka lahir. Padahal klo diliat2 mereka sperti kesetannan bgitu melakukan aksinya. Pake bawa2 nabi Muhammad pula..weeeeehhhhh,,,saya tau Rasul kita adalah pejuang dan berjihad pula. Tapi sepertinya dia masih punya batas rasional deh tt berperang atas nama Islam.

Orang2 itu mesti ingat bahwa sampe kpn pun, Indonesia bukan negara Islam. Kita mengakui 5 agama. dan hal tersebut yg slalu kita banggakan sebagai sebuah bangsa. Sebagai bangsa yg bisa toleransi antar agama. Ngga malu apa sama penganut agama lain yg bs lebih sabar menghadapi tingkah laku umat muslim yg kadang2 ontohot??!!??? Umat agama lain jauh lebih sabar dibanding umat muslim sendiri.

Jadi, coba deh introspeksi sama diri sendiri. Negara kita sudah penuh dgn org2 yg banyak omong tt membela Islam tapi perilakunya tidak mencerminkan Islam. Sebelum ngomong, mending mikir dulu..

Sabtu, 20 September 2008

Antara Logika dan Cinta

Hari Minggu, Jam 9 pagi, Bulan Ramadhan, baru saja bangun tidur sekitar 15 menit yg lalu :)

Hi! baru bgn tidur udah lsg ngeblog. Cepet amat ya si otaknya loading..heheheheheh,,,sbenernya emang niat mo nulis dari sahur, tapi karena ngantuk, jadi ide nya disave dulu. Diajak ngobrol dalam hati dulu :D

Hari ini saya mo nulis opini tt percintaan. Lebih tepatnya, antara logika dan cinta. Gpp yaaaa????

So, banyak yg bilang , jatuh cinta itu sejuta rasa nya (hihihi,,even myself,,hihi). Memang bener. Saat kita jatuh cinta, semuanya indaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh bener. Perasaannya menggebu2 terus, maunya senyum2 terus, trus kita kadang2 melakukan suatu hal normalnya ngga kita lakukan. Buat kita, seseorang yg kita suka itu ngga ada celanya. Semua yg melekat di dya, semua omongannya (baik pujian atopun ledekan) terasa bagus aja. Saat seperti ini yg biasa disebut "cinta itu membutakan mata." Saat ada seseorang berkomentar tt perasaan cinta kita, kita tidak peduli malah cenderung cuek aja. Ya ngga? Padahal, klo kita sebenernya mo mendengar sedikit aja, kadang ada hal baik dan berguna di setiap komentar org.

Saat cinta sudah ngga menggebu2 lagi, saat kita sudah terbiasa dengannya, kadar rasa itu kembali normal. Disini logika mulai bicara. Kita mulai sadar bahwa, hidup kita ngga melulu soal "dia." Gue punya kegiatan sendiri, punya goal hidup sendiri, pnya jalan hidup sendiri. Tidak semua hal mesti dilakukan sama2 "dia" terus. Tapi kita selalu inget bahwa kita punya suatu komitmen (dunia kita berdua) yg mesti kita jaga. Yg mesti kita hormati.

Again, I am not a love expert but I've been through worse love cases. So, more or less I know this field like surah Al-Fatihah...heheheheh.

So, sampe mana kita tadi? Oya, komitmen, the logic talks. Sayangnya, tidak semua org mengerti dgn jalan logika kita. Banyak orang menginginkan agar pasangannya tetap menggebu2 seperti dia. Ada juga pasangan yg bahkan takut mendengar kata L-O-G-I-K-A. Akibatnya, dia jadi parno sendiri. Timbul asumsi2 bahwa sang pasangan sudah ngga kaya dulu lagi. Singkat kata, sifat asli pasangan mulai muncul dan kita mulai tidak terima. Hal2 seperti ini yg menurut gue adalah titik awal berantem. Bertengkar untuk sesuatu yg sebenarnya tidak perlu diributkan karena kita tidak bisa meminta org untuk berubah. Kita datang jauh sesudah karakter "dia" terbentuk. Kita lupa bahwa sampai kapanpun 2 org manusia tidak akan pernah sama karakternya. Namun, kita tetep kekeuh sama pendirian kita. Kita mulai paksa "dia" utk melakukan apa yg kita inginkan sampai membuat "dia" lama kelamaan jd ngga nyaman.

Akhirnya, kita jenuh. Kita berdua saling menyakiti. Udah ngga ada lagi rasa menggebu2 itu. Semua hilang. Its like you are losing something that you value the most in your life. AKhirnya, kalian berdua berpisah. Waooooo,,,sakiiiiitttttt, isnt it?

Saya yakin ada bberapa org yg pernah merasakan apa yg saya tulis. Saya sendiri sering merasakannya. Tapi, lama kelamaan saya bosan selalu berpikir dengan hati dan perasaan. Pacaran jadi ngga fun. Jadi ngga ada isinya selain berantem aja. Beneran loh, begitu saya berpikir dgn hati dan perasaan saya, bawaannya jadi curigaan mlulu, negative thinking mlulu, dan kita jadi emosional. Being emotional is more exhausting than being logical. Saya mencoba untuk menyayangi diri saya sendiri dan berusaha utk jadi diri sendiri. Bukankah cinta yg baik itu adalah cinta kepada seseorang apa adanya dia? Saya selalu ingat bahwa setiap hal pasti ada timbal baliknya. Misalnya: klo kita minta org berubah, brarit kita jg mesti siap berubah bila suatu saat diminta sm "dia." Ngga enak kan? Mean, sampe kpn kalian mesti "membalas budi" trus? Its okay to complain, tapi klo ternyata kita tdk mendapatkan balesannya yg enak, yasudah..jgn jd sensitif, OK?

Jadi, logika dan cinta itu pasti akan selalu bertentangan. Karena perasaan itu biasanya sgt sensitif dan menghindari sesuatu yg menyakitkan hati sedangkan logika selalu menghadapkan kita ke sisi enak dan tidak enaknya kehidupan. Buat saya, dalam bercinta, logika mesti memegang peranan yg besar daripada perasaan. Hati2, perasaan kdg suka men-drive kita melakukan sesuatu yg normalnya tidak kita lakukan yg kadang2 membahayakan diri kita sendiri. Kita menjadi seseorang yg bukan semestinya. Tidak jarang, kita selalu menyesal di kemudian hari atas tindakan irasional itu. Sedang logika, selalu membimbing kita utk stay on our life track. Jgn biarkan seseorang itu menganggu plan hidup kita yg sudah kita rencanakan jauh sebelum bertemu dia. Salah2 malah kita bs kehilangan segalanya.

So, logic or feeling? You decide...Selamat Bercinta !!

Selasa, 16 September 2008

Being Mature.

Apa itu menjadi dewasa? Huhuhuhu,,,kata2 itu selalu stuck dalam batin saya selama bbrp tahun blakangan ini. Sampai hari ini saya sendiri blum bisa bilang kalau pencarian jati diri saya sudah selesai dan ssaya sdh bisa dicap sbg manusia dewasa. Ngga tau kenapa. Memang blum sreg aja rasanya sama personality sendiri. hehehehe...

Tapi dari semua ketidak nyamanan itu saya tau kemana arah pencarian itu. Selalu berhubungan dgn kata2 pendewasaan diri. Apa sih itu? Awalnya saya pikir menjadi dewasa itu intinya ga mudah marah2 deh. Padahal, setelah hidup selama 22 tahun ini, persepsi saya tt menjadi dewasa salah besar.

Bisa dibilang kita semua belajar dewasa tanpa banyak bantuan. Semua kita lakukan atas inisiatif sendiri karena pengaruh lingkungan kita yg menuntut demikian. Intinya biar lingkungan merasa nyaman kalo ada kita di dalamnya. Tapi ada juga orang yg blajar dewasa karena bbrp kejadian dalam hidupnya. Di kasus saya, proses menjadi dewasa selalu diawali dengan putus cinta. hahahahahahahahah...boleh tertawa, tapi memang bgitu kenyataannya. Saya jg ngga ngerti apa sayanya yg terlalu mature dari umur sebenarnya atau sifat asli saya yg kadang2 annoying. Bisa dibilang proses pendewasaan diri saya bermula karena saya harus mengakhiri sakit hati dari putus tersebut. Dibantu oleh sebuah buku "The 7 Habits of Highly Effective Teens," alhamdulillah buku ini membuka mata saya pada perbaikan diri ke arah yg positif. Saya sadar bahwa untuk menjadi dewasa, kita mesti memulai dengan memperbaiki paradigma kita terhadap diri kita sendiri. Misalnya, kalau selama ini kita selalu bilang sama diri kita, kita tidak bisa menyanyi, selamanya kita akan selalu berpikir begitu dan akan berlaku negatif terhadap semua hal yg menyangkut kepada kegiatan menyanyi. Tapi kalau kita berlaku sebaliknya, bahwa kita punya kemampuan dan akan mengasahnya, perilaku kita pasti akan positif.

Naaahhh,,sejak membaca buku itu saya coba evaluasi diri. Ternyata selama ini saya tidak punya komunikasi yg baik dgn org2 terdekat saya yang kemudian membentuk pribadi saya menjadi pribadi yg suka berasumsi negatif, terlalu cepat mengambil keputusan, dan sering tidak mau mendengarkan apa kata orang. Dgn bekal perubahan paradigma, saya menantang diri saya untuk berubah menjadi lebih baik demi kepentingan diri dan org2 terdekat saya. Syukur alhamdulillah, proses itu sudah membuahkan hasil. Sekarang, komunikasi saya dengan org2 terdekat menjadi lebih baik dan saya lebih merasa nyaman berada di lingkungan saya sendiri.

Kesimpulan saya menjadi dewasa itu sebenarnya bagaimana kita merubah paradigma kita akan diri sendiri. Semua org pasti punya kekurangan yg ingin mereka perbaiki. Nah dari situlah kita mesti memulainya. Saya tidak bilang proses ini segampang membalikkan tangan. No....ada kok saatnya saya sampai pada titik tidak tahu lagi mesti apa terhadap cobaan yg datang ke diri saya ini. Tapi saya tidak menyerah, saya tahu Allah akan selalu membantu saya. Setiap kejadian hidup yg terjadi dlm hidup saya selalu memberikan hikmah dalam hidup saya. Maka dari itu, bersabarlah kawan. Ikhlaskan semua hal yg terjadi, dengan sendirinya hal baik akan datang pada kita.

;-)

Minggu, 14 September 2008

Perkenalan



Hi ! Nama saya Meis. Lengkapnya, Meis Ulima. I've decided to write a blog simply because I need to. I usually have a lot going on in my head and instead of discussing it with others, I prefer writing all ideas into a journal, a piece of paper or a blog.

Saya baru menemukan ide menulis ini setelah lulus kuliah. Oiya, saya fresh graduate dari salah satu university yg terletak di Serpong. Alhamdulillah, 4 tahun belajar manajemen menghasilkan nilai yg memuaskan :-) terima kasih untuk semua pihak yg telah membantu yaaaaa....

Ini blog saya yg kedua. Saya pernah buat 1 blog di blogspot.com tp begitu mo di-access, saya lupa alamatnya,,hehehehe,,,jadi bikin lagi deh.

Alasan saya menamai blog "You Guys are SuperWoman" bukan karena saya seorang feminis. No...i am not a feminist. Saya selalu percaya kodrat wanita akan selalu di bawah lelaki, sampai kapan pun. Yg membedakan kita hanya kemampuan diri. Kemampuan meng-handle masalah, emosi dan lainnya. Anyway, alasan saya memberi judul itu hanya sebgai reminder untuk semua orang (khususnya wanita) bahwa kita ini manusia super. Bayangkan berbagai masalah yg kita hadapi dalam hidup ini. Ada yg ringan tapi tdk sedikit juga yg berat. Orang2 yg pantang mengeluh dan selalu berserah diri kepadaNya, biasanya dpt melalui cobaan2 itu dgn gampang. Walaupun dalam prosesnya tidak segampang membalikkan tangan. Tapi menurut pengalaman pribadi, kalau kita membuang jauh segala pikiran negatif dan slalu melihat hal dari segi positifnya, hidup kita akan jauh lebih nikmat. Karena, dengan melihat sesuatu dari segi positif biasanya disertai dgn great opportunities :-)

Yah..mungkin segitu saja dulu tulisan saya saat ini. Di blog ini saya akan menulis tt sgala opini saya terhadap dunia yg sedang saya hadapi. So, enjoy ! :-)